GUILIN: LOST IN TRANSLATION

Desember 2014, dua manusia galau yang butuh piknik iseng-iseng browsing tiket promo di sebuah web dari maskapai A. Kami berdua stres dengan berbagai macam masalah di kantor masing-masing, dan butuh refreshing.

“Pengen jalan-jalaaaan, tapi pengennya ke luar negeri. Biar go international kayak Agnezmo. Tapi ke mana dong yang tiketnya nggak mahal?” tanyaku.

“Sama! Eh tapi, ngajakin jalan ke luar negeri tuh emangnya udah punya paspor?” ledek Rio.

Dari ledekan, sampai berujung pada eyel-eyelan untuk menentukan negara tujuan. Kami berdua memang hobi berantem, tapi tetap saja berakhir akur demi urusan jalan-jalan.

Dan setelah browsing, akhirnya Rio menemukan tiket promo tujuan Nanning, Cina via Kuala Lumpur, Malaysia yang harganya sekitar 1,4 juta rupiah untuk round trip. Tapi kami berdua sempat bertanya-tanya, di mana pula itu Nanning? Kami sempat ragu sebelum memutuskan membeli tiket promo tsb. Aku ragu tentang izin cuti, sementara Rio ragu karena setahun sebelumnya sudah pernah menginjakkan kakinya di Negeri Tirai Bambu itu.

Tapi, dengan segala keraguan, kami tetap memutuskan untuk membelinya. Kami berdua saling meyakinkan satu sama lain kalau rencana kali ini akan berjalan dengan baik, seperti rencana jalan-jalan kami sebelumnya.

Setelah berbulan-bulan menunggu, tibalah saatnya mengurus visa. Menurut Rio yang sudah pernah jalan-jalan ke Cina, mengurus visa untuk berlibur ke Cina itu paling mudah. Tapi entah kenapa, pengajuan visa kami sempat ditolak. Kurang ini itu lah, nggak sesuai ini itu lah. Bikin deg-degan.

Dan karena kami berdua sibuk dengan pekerjaan masing-masing, akhirnya kami terpaksa meminta salah seorang teman untuk mengurusnya. Untungnya dia mau repot bolak-balik ke visa application center di Surabaya hehe..

Juni 2015
Rio agak curang, trip kali ini bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Mungkin dia memang sengaja ingin menghadiahi dirinya sendiri dengan pergi jalan-jalan ke Cina. Dan sebagai travelmate yang baik, aku pun nggak bisa nolak. Tapi kami berdua memang butuh piknik sih!

Segala persiapan akhirnya beres. Seperti biasa, aku lah yang selalu punya andil lebih besar dalam proses pembuatan itinerary, pencarian hotel, maupun info transportasi selama satu minggu di Cina. Rio tetap nggak mau repot seperti biasanya. Tapi keputusan apapun yang diambil adalah keputusan bersama, karena kami berdua sama-sama keras kepala. Untungnya selera dan gaya jalan-jalan kami sama. Kami sama-sama tahu apa yang kami mau, jadi nggak perlu gontok-gontokan karena mau menang sendiri. Mungkin karena sudah sering jalan bareng kali ya.

Beberapa hari sebelum keberangkatan,

“Aku ada kabar baik tapi juga ada kabar buruk. Kamu mau denger yang mana dulu?” tanya Rio.

“Apaan, nyet? Jangan bikin deg-degan deh,” jawabku sewot.

“Baik atau buruk dulu?” tanya Rio kekeuh.

“Hmm.. Kabar baik dulu deh. Buruan, apaan?” tanyaku penasaran.

“Cutiku udah approved lho! Yeay!” teriak Rio.

“Alhamdulillah. But what about the bad one?” tanyaku lagi karena masih penasaran sekaligus ketakutan.

“Duit cutinya belom cair hiks..” jawab Rio lunglai.

Err.. Mau tukar mata uang Yuan tapi uang cuti Rio belum juga turun. Bingunglah kami berdua setengah mati, berusaha nyari pinjaman sana sini. Dasar traveler kere! Haha..

Sampai H-3 pun, belum ada tanda-tanda sejumlah uang masuk ke rekening Rio. Kami berdua makin galau. Plan B was needed, we thought. Terpaksa kami benar-benar harus mencari pinjaman uang, dan yang berbaik hati meminjamkan Rio uang adalah Mbak Ira; kakak perempuan Rio.

Tapi yang namanya rezeki anak soleh, sehari kemudian ada rezeki lain yang menghampiri kami. Alhamdulillah, ya! Mbak Ira akhirnya membantu kami menukarkan Rupiah ke Yuan dan Ringgit. Terimakasih, Mbak Ira!

Be Ready, It’s Not a Short Story!
Matahari belum juga menampakkan batang hidungnya, kami sudah menyusuri jalanan menuju Bandara Juanda diantar oleh Ayah dan Mama-nya Rio. Maklum, first flight. Mau nggak mau mata harus dipaksa melek walaupun malam sebelumnya kami berdua nongkrong sampai tengah malam sambil merayakan ulang tahun Rio.

Dari Surabaya, kami berdua terbang menuju Kuala Lumpur, Malaysia. Transit beberapa jam di KLIA, dan dilanjutkan terbang menuju Nanning, Cina. Ini kali pertamaku pergi jalan-jalan ke luar negeri dan merasakan waktu terbang yang lumayan lama, sekitar lima jam. Biasanya juga paling lama dua jam penerbangan domestik haha.. super excited, sampai..

“Rio, I’m boredAnd hungry. Masih berapa lama lagi nyampai Nanning-nya?” tanyaku dengan muka kusut karena bangun tidur dan pesawat belum juga mendarat.

“Hadeh, tadi kan udah makan di KLIA. Sabar, masih tiga jam lagi,” jawab Rio yang sebenarnya juga mulai bosan.

Matahari bersinar terik sore itu, tapi pemandangan di bawah kami indah banget. Kami melewati beberapa negara seperti Thailand, Vietnam, Laos, dll. Ah, lain kali harus mendarat di negara-negara itu.

“Rio..”

“Iya, tau. Bosen, kan? Sama!”

Aku pun manyun karena bete, sementara Rio melanjutkan tidurnya sambil menancapkan headset di telinganya. Akhirnya, aku mencoba membunuh waktu dengan main game di hp.

Dari ngantuk-tidur-bangun-bosan-tidur lagi-bangun lagi sampai pantat capek karena terlalu lama duduk, pesawat kami belum juga mendarat. Entah kenapa, waktu berjalan lambat. Kami berdua melirik satu sama lain, sama-sama mati gaya karena bosan. Sampai akhirnya kami tertidur lagi. That’s the only thing we both are good atsleeping.

Saat terbangun lagi, ternyata pesawat masih melenggang di atas awan.

“Buset, lama amat nggak sampai-sampai,” gerutuku dalam hati.

Nanning Wuxu International Airport
Horee.. sampai! Sudah sore, tapi masih juga panas terik sewaktu pesawat kami landing di Nanning Wuxu International Airport. Bandaranya luas, bagus, dan mewah. Tapi entah kenapa, bandara sebesar itu sepi sekali kalau dibandingkan dengan KLIA yang rame dengan orang lalu-lalang.

“Cina panas banget!” ucapku menjiplak gaya Nikita Mirzani.

Walaupun begitu, kami berdua masih tetap excitedLet the adventure begins!

“Buset, tulisan Cina semua. Trus ini gimana nyari bus nomer satunya?” tanyaku yang mulai parno dan histeris.

“Namanya juga lagi di Cina, ya tulisan Cina semua lah,” jawab Rio datar.

Dari Nanning Wuxu International Airport, kami berdua pergi menuju Nanning Railway Station menggunakan shuttle bus nomor 1 sesuai petunjuk yang kami dapat melalui email pada saat melakukan reservasi hotel. Jarak tempuhnya sekitar satu jam. Sekeliling mata memandang, hanya ada orang lokal di dalam bus tsb, kecuali kami berdua. Rio pengin memastikan kalau bus yang kami naiki benar, tapi kami bingung harus bertanya pada siapa. Dari petugas tiket yang ada di loket depan bandara, sampai supir bus pun nggak ada yang bisa kami tanya dalam Bahasa Inggris.

DSCF0993-01

Shuttle Bus dari Nanning Wuxu International Airport

Saat bus mulai melaju, di tempat duduk sebelah kami, ada seorang perempuan yang sedang sibuk dengan hp-nya. Aku iseng meminta Rio bertanya dan memastikan kalau kami ada di dalam bus yang benar. Beruntung, ternyata dia bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Dan kami aman. Phew!

Sejam berlalu, bus berhenti di pinggir jalan di depan deretan pertokoan. Ternyata di situlah tempat pemberhentian terakhir, mungkin itu semacam halte. Supir bus bicara dalam Bahasa Cina dan membuka pintu bus, lalu para penumpang turun. Kami berdua masih bingung, tapi supir bus itu seperti menyuruh kami segera turun juga dengan gerakan tangannya.

Kami melihat ada sebuah restoran fast food berlambang huruf M di deretan pertokoan tempat kami diturunkan. Untungnya lambang huruf M-nya nggak ditulis dalam huruf Cina, kalau nggak, mana kami bisa tahu hahaha.. Kami memutuskan membeli makanan buka puasa untuk Rio di sana, karena waktu itu bertepatan dengan bulan Ramadhan. Tapi hanya Rio yang berpuasa, aku kebetulan sedang berhalangan.

DSCF1007-01

Girang banget mukanya, mas!

Setelahnya, kami pergi menuju Nanning Railway Station. Di sinilah lost in translation trip benar-benar berlanjut. Gimana enggak, mau nyari stasiun kereta aja, kami kesulitan. Tiap nanya orang lokal yang kami temui, nggak ada satupun yang bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Kebanyakan, mereka cuek. Bahkan ada yang terang-terangan menolak memberikan jawaban sebelum kami tanya. Doh! Bikin pengin mewek sambil garuk-garuk tanah. Petunjuk di jalan pun semuanya bertuliskan huruf Cina.

“Excuse me, will you let us know where the railway station is?” tanyaku pada seorang penjaga toko.

“*@$@*$..” jawabnya dalam Bahasa Cina sambil menunjukkan arah dengan jari tangannya.

Oke, at least, dia mengerti apa yang kutanyakan dan berusaha membantu menunjukkan arah walapun dengan Bahasa Cina yang nggak kami ngerti. Kami pun berjalan mengikuti arah yang ditunjukkan oleh si penjaga toko, melewati jalan sempit berbau pesing di samping pertokoan.

So typical of China, bau pesing di mana-mana,” gerutu Rio.

“Hahaa.. Welcome to China then,” jawabku setengah tertawa.

Karena masih belum sepenuhnya yakin, lalu kami memutuskan bertanya sekali lagi pada seorang lelaki penjaga hotel yang ada di jalan kecil yang sedang kami lewati. Tapi lagi-lagi, orang itu nggak mengerti apa yang kutanyakan dalam Bahasa Inggris. Dia malah memberi tanda agar kami mau menunggu sebentar, lalu dia lari ke dalam. Ternyata dia memanggil temannya yang jago Bahasa Inggris. Thank God.

Setelah mendapat pencerahan dari penjaga hotel, kami jalan kaki lagi sekitar sepuluh menit ke Nanning Railway Station. Tapi jangan sedih, penderitaan belum juga berakhir di sini!

“Halo, we wanna go to Guilin. How can we get the tickets?” tanyaku pada seorang petugas stasiun.

Dan.. dia ngomong bahasa planet Mars! Di situlah aku pengin nangis. Rio juga kelihatan mulai frustrasi. Tuhan, please dong. Kami berdua sudah capek, jetlag, gerah, laper, haus, bawa backpack berat, dan ada di negeri orang dengan bahasa yang susah kami mengerti. Pusing kepala barbie!

Setelah menjelaskan berkali-kali dan dijawab panjang lebar dengan bahasa planet lain, kami berdua akhirnya “digiring” menuju loket pembelian tiket. Yaelah, dari tadi dong, Pak!

Di antara beberapa loket, untungnya ada loket yang bertuliskan “English Speaking Officer”. Lega rasanya, nggak perlu capek-capek ngomong dengan bahasa tubuh lagi. Kami berhasil mendapat tiket kereta cepat menuju Guilin sekitar jam 8 malam waktu setempat.

PhotoGrid_1451806225071

Suasana di dalam kereta cepat rute Nanning – Guilin

“Wow, keren banget keretanya. Nggak bunyi jujes-jujes kayak kereta di Indonesia ya,” celotehku sambil melahap ayam goreng di dalam kereta cepat menuju Guilin.

“Yo’i, namanya juga fast train,” jawab Rio singkat sembari sibuk mengunyah makanannya.

Perjalanan menuju Guilin ditempuh selama dua jam dengan kereta cepat. Selama itu pula, kami berdua sok asyik melakukan berbagai kekonyolan untuk menghibur diri dan menghilangkan rasa bosan. Dari makan, wefie, nyanyi-nyanyi, sampai cekikikan berdua ngomongin mbak-mbak pramugari kereta yang mondar-mandir menawarkan makanan dan minuman dengan bahasa yang menurut kami aneh hahaha..

1441719922

Bosan? Wefie! Haha..

“Bangunin kalo udah nyampe ya, Mangga. Kamu jangan ketiduran,” kata Rio.

“Tapi aku ngantuk,” jawabku.

“…..”

And he fell asleep only in a minute. Ngok banget!

Guilin, Cina Selatan
Tengah malam, akhirnya kami tiba di Guilin Railway Station. Hotel kami, Red Bamboo Hotel, berjarak sekitar sepuluh menit dari stasiun dengan taksi. Lagi-lagi supir taksinya nggak bisa Bahasa Inggris. Huff!

Sesampainya di hotel, penjaga hotelnya pun nggak bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris sama sekali. Tapi, dia lumayan cerdas karena berusaha memakai aplikasi Google translate yang ada di hp nya. Horeee.. Smart people do exist, finally!

Saat memasuki kamar hotel, kami sempat kaget karena kamarnya bagus banget. Interiornya perpaduan modern dan klasik dengan beberapa ornamen ala Cina. Nggak nyangka, padahal hotelnya terlihat biasa aja dari luar. Alhamdulillah, kami pun bisa mandi dan istirahat dengan nyaman.

  • Day 1: City Tour

Hari pertama di Kota Guilin, kami berdua mengunjungi tempat wisata yang paling dekat dengan hotel. Berbekal Google Maps dan itinerary yang sudah kubuat, kami memutuskan berjalan kaki menuju Solitary Beauty Peak and Xinjiang Prince CityWell, ini pengalaman pertama jalan kaki di luar negeri dan menjadi perhatian publik. Sejauh kami jalan kaki, kami selalu jadi “tontonan” orang lokal, khususnya aku. Mungkin karena aku memakai jilbab kali, ya!

Tempat tsb kami tempuh selama sekitar lima belas menit dengan jalan kaki super santai sambil diselingi foto-foto, secara kami berdua sama-sama doyan banget jeprat-jepret narsis biar eksis haha.. Tiap ada spot seru, di situlah kami berhenti sebentar untuk foto. So tourists, right?

DSCF1140-01

Trotoar yang luas dan nyaman bagi pejalan kaki

Pagi itu, di loket pembelian tiket sudah ramai. Kami berdua harus antre sampai pintu masuk tempat wisata. Dan lagi-lagi, semua petugasnya hanya menggunakan Bahasa Cina. Tapi ya sudahlah, kami pun mulai terbiasa tersesat dalam bahasa asing.

DSCF1143

Guilin Solitary Beauty Peak and Prince City

DSCF1237-01

Salah satu sudut Solitary Beauty Peak and Xinjiang Prince City, Guilin

Ternyata tempat pertama ini semacam museum dengan taman yang luas banget dan bangunan-bangunan khas Cina jaman dulu. Sebagai orang yang gampang bosan, kami berdua menganggap tempat ini biasa saja. Dengan harga tiket yang lumayan mahal bagi kami, rasanya tempat ini kurang atraktif dan kurang seru. Guide yang disediakan juga hanya menjelaskan dengan Bahasa Cina. Mungkin karena pengunjung cuma wisatawan lokal, dan hanya kami berdua yang wisatawan asing.

DSCF1268-01

Solitary Beauty Peak and Xinjiang Prince City, Guilin

Karena bosan, kami menyudahi dan memutuskan menuju tujuan selanjutnya. Ada beberapa pilihan tempat wisata di itinerary yang kubuat. Setelah beberapa saat mencocokkannya dengan lokasi di Google MapsGuilin Mountain Scenic Area adalah pilihan kedua kami.

Siang itu, Tuhan mungkin tertawa. Kami dipertemukan dengan seorang supir taksi perempuan yang jago berbahasa Inggris.

“Alhamdulillah,” ucap kami berdua lega sambil meringis senang.

Menemukan supir taksi yang ramah dan jago berbahasa Inggris di Cina itu semacam angin segar di siang yang panas dan gerah. Supir itu pun mengantar kami ke tempat yang kami tunjuk. Dia juga punya beberapa foto dan brosur berisi referensi tempat wisata di Guilin. Sepertinya dia kerjasama dengan beberapa agen wisata, karena brosurnya lengkap banget.

Di Guilin Yaoshan Mountain Scenic Area, kami bisa melihat pemandangan kota Guilin yang luas dari atas cable car.

DSCF1327-01

Pemandangan dari atas cable car, Guilin Yaoshan Mountain Scenic Area

Dan sesampainya di atas puncak Pegunungan Yaoshan, ada beberapa tempat yang disediakan agar pengunjung bisa melihat keindahan alam Guilin yang lebih memukau. Walaupun sedikit berkabut, tapi mata kami dimanjakan oleh pemandangan nggak terduga, yaitu perpaduan pegunungan karst, hutan hijau, sungai, danau buatan, dan gedung bertingkat yang nampak tertata rapi dari kejauhan.

 

DSCF1341-01

Bukit dan pegunungan karst berkabut dari puncak Guilin Yaoshan Mountain Scenic Area

DSCF1363-01

Indahnya Masya Allah, Guilin Yaoshan Mountain Scenic Area

Puas menikmati keindahan dari puncak, kami kembali turun dengan cable car. Tapi, ada yang berbeda kali ini. Cable car yang kami naiki hanya mengantar kami turun sampai setengah jalan saja, kemudian mereka menyediakan sliding boards. Kami harus meluncur menggunakan sliding board melalui slide way yang tersedia. Aku kagum dengan kepintaran orang Cina yang bisa membuat tempat wisata ini menarik.

PhotoGrid_1451826937131

Meluncur girang di Slide way, Guilin Yaoshan Mountain Scenic Area

Kami berdua meluncur kegirangan meliuk-liuk naik-turun melewati slide way seperti anak TK yang main perosotan di sekolah. Saking serunya, aku berteriak-teriak sampai penjaga tempat wisata di sana sempat tertawa melihat kelakuanku hahaha.. It was indeed fun!

“Kuraaang, pengin naik perosotan lagi!” rengekku ke Rio.

“Iya sih, aku juga pengin lagi. Tapi harus bayar lagi dong berarti?” jawab Rio.

“Iya sih. Yaudah deh, next destination, please,” sahutku.

Tempat ketiga adalah Elephant Trunk Hill. Menurut supir taksi yang kami sewa, tempat selanjutnya berada cukup dekat dengan hotel kami. Dia pun dengan senang hati mengantar kami yang penasaran seperti apa bentuk Elephant Trunk Hill sebenarnya. Gambaran yang kudapat dari Instagram dan Google sih, bentuknya sesuai dengan namanya; seperti belalai gajah.

Dan sesampainya di tepi sungai dekat Elephant Trunk Hill, mendadak hujan mengguyur kota Guilin sore itu. Agak aneh, kenapa bisa turun hujan di saat musim panas, ya?

Kami pun akhirnya mengurungkan niat untuk mengunjungi bukit yang berbentuk seperti gajah dengan belalai-nya itu. Selain karena cuaca yang kurang mendukung, rupanya kondisi fisik perahu bambu yang tersedia juga kurang meyakinkan. Kebanyakan sudah tua dan kotor, serta ringkih. Ditambah lagi, perahu-perahu bambu tsb nggak dilengkapi dengan penutup bagian atas yang bisa melindungi kami dari panas atau hujan. Kami juga berpikiran kalau tempatnya kurang menarik, beda sekali dengan foto-foto yang kami lihat di Google atau Instagram. Rasanya nggak terlalu sebanding dengan harga sewa perahunya yang lumayan mahal.

Untuk mengobati rasa kecewa, aku meminta supir taksi mengantar kami membeli buah leci sebelum kembali ke hotel. Di sepanjang jalan, banyak sekali penjual buah berkulit merah itu. Mungkin dari sinilah buah ini berasal. Harganya lumayan murah dibanding harga jual di Indonesia, dan buahnya juga masih segar-segar seperti baru dipetik.

Di Cina, siang hari jauh lebih lama dibanding malam hari. Jadwal buka puasa pun sekitar dua jam lebih lama dibanding waktu Indonesia. Dan sambil menunggu waktu berbuka, kami istirahat sebentar di hotel sambil Googling restoran halal terdekat.

Mencari restoran halal di Cina itu kayak mencari jarum di tumpukan jerami. Super duper susah! Informasi yang ada di Google pun cukup sedikit. Mau nanya ke petugas hotel pun, rasanya nggak mungkin karena kendala bahasa. Bisa saja kami makan sembarangan tanpa peduli halal atau nggak, tapi melihat beberapa seafood yang ada di tempat makan sepanjang jalan yang kami lewati, kami pun bergidik ngeri.

Setelah berjalan kaki sekitar setengah jam, belum ada tanda-tanda restoran halal yang kami lihat. Aku kasihan melihat Rio yang belum juga bisa makan padahal waktu buka puasa sudah tiba.

“Rio, bentar deh. Mending kamu minum dulu, udah jam delapan nih. Udah waktunya buka puasa,” kataku sambil berhenti di depan deretan pertokoan di tengah perjalanan mencari restoran halal.

Aku pun mengambil botol air mineral yang ada di dalam tasku dan memberikannya kepada Rio. Ups, rupanya isinya tinggal setengah. Tapi lumayanlah untuk menghilangkan rasa haus setelah seharian puasa. Nggak sampai semenit, Rio menenggaknya habis.

“Kasihan anak emak, haus ya?” tanyaku sembari tertawa.

“Banget,” jawabnya singkat.

Sepuluh menit berjalan lagi, kami melihat huruf Arab bertuliskan halal di sebuah restoran. Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga. Kami pun bisa makan dengan lahap, walaupun masakannya agak hambar. Harga makanannya pun lumayan mahal, dan nggak sebanding dengan rasanya. Jujur, kami nggak terlalu puas sih.

PhotoGrid_1451828041870

Buka Puasa di Moslem Restaurant, Guilin

Setelah makan, kami berjalan menyusuri kota Guilin sambil ngobrol tanpa peduli arah. Kami nggak peduli akan tersesat dan nggak bisa pulang ke hotel, yang penting jalan-jalan menghabiskan malam.

DSCF1437

Street foods di Night Market, Guilin

DSCF1443-01

Night Market, Guilin

Melewati pasar malam, pertokoan, lalu-lalang orang, jembatan, sampai akhirnya kami berada di tepian danau buatan di sebuah taman. Kami pun duduk santai sambil menikmati pemandangan kelap-kelip lampu taman dan bangunan-bangunan yang menjulang tinggi dari kejauhan, serta diselingi beberapa perahu yang melintas. Indah, romantis, dan menenangkan.

DSCF1466

Taman Kota, Guilin

DSCF1458-01

Ronghu Lake, Guilin

A night should be spent like this. I couldn’t ask for more.

  • Day 2: Trekking di Siang Bolong (40◦ celcius)

Di hari kedua, kami melipir ke Longsheng untuk mengunjungi rice terrace yang terkenal banget di Cina Selatan; Longji Rice Terrace. Karena Longsheng berada di Propinsi Guangxi dan letaknya berada agak jauh dari Guilin, kami memutuskan untuk membeli paket tur yang direkomendasikan oleh supir taksi perempuan yang mengantar kami keliling kota di hari pertama. Pagi-pagi, kami berdua dijemput oleh rombongan tur dengan bus kecil di depan hotel.

Perjalanan ke Longsheng membutuhkan waktu sekitar dua jam. Di dalam bus, peserta tur kebanyakan adalah wisatawan lokal, dan hanya ada tiga orang wisatawan asing; aku, Rio, dan seorang lelaki bule berasal dari Australia. Begini ya rasanya jadi orang asing hehe..

DSCF1524-01

Pemandangan selama perjalanan menuju Longsheng

Pemandu wisata kami menjelaskan tentang sejarah Longji Rice Terrace beserta sebuah suku unik yang tinggal di wilayah Longsheng, tentu saja dengan dua bahasa secara bergantian; Bahasa Cina dan Bahasa Inggris. Aku mendengarkan penjelasannya sambil sesekali melihat pemandangan dari jendela bus dan sekaligus menceritakan ulang apa yang diceritakan si pemandu wisata dengan Bahasa Indonesia kepada Rio. Maklum, teman jalanku satu ini malas sekali mikir sendiri dan memahami penjelasan dari sang pemandu wisata. Manja, ya!

Pemberhentian pertama adalah sebuah desa bernama Ping’an, di mana ada sebuah suku unik bernama Yao. Keunikan Suku Yao adalah, para wanita diwajibkan memelihara dan memanjangkan rambut mereka dari lahir sampai dewasa, dan ada larangan untuk memotongnya. Nggak kebayang kan seberapa panjangnya?

DSCF1584

Pertunjukan Long Hair Dance oleh Suku Yao, Desa Ping’an – Longsheng

Menurut penjelasan si pemandu wisata, rambut para wanita di Desa Ping’an bisa mencapai dua meter lebih. Mereka merawatnya menggunakan sampo alami, yaitu dari merang (batang padi kering yang dibakar dan kemudian direndam). Suku Yao percaya bahwa semakin panjang rambut mereka, semakin makmur hidup mereka.

DSCF1565

Seorang perempuan Suku Yao memberikan minuman selamat datang untuk para pengunjung

Kami juga disuguhi minuman yang terbuat dari beras dan cuka dengan rasa yang aneh di lidah disela-sela melihat pertunjukan khas Suku Yao yang menampilkan tarian rambut panjang dan keseharian mereka mencari nafkah; dari memilin benang, menanam padi, mencari ikan, sampai proses perjodohan.

DSCF1570

Pertunjukan memilin benang sebagai salah satu mata pencaharian Suku Yao, Longsheng

Kebiasaan unik lainnya dari Suku Yao adalah mencubit pantat. Katanya sih, hal ini melambangkan rasa kasih sayang. Jadi jangan kaget atau marah ketika ada seorang Suku Yao yang tiba-tiba mencubit pantat pengunjung, karena itu tandanya mereka menyambut hangat kedatangan kita. Lucu banget kan? Hahaha..

DSCF1538-01

Rumah Khas Suku Yao, Desa Ping’an, Longsheng

Setelah itu, bus kami menuju tempat wisata kedua. Sekitar tiga puluh menit melewati jalan berkelok dengan pemandangan bukit dan pegunungan, kami sampai di venue.

DSCF1520-01

View dari bus: Jalan sempit dan berkelok, pemandangan bukit dan gunung menuju Rice Terrace, Longsheng

“Hah, serius panas-panas gini harus trekking? Mana kamu puasa pula, Rio. Yakin kuat?” tanyaku ketika pemandu wisata kami sedang menjelaskan.

“Nggak tahu, bismillah aja. Enak banget kamu pas lagi nggak puasa. Awas aja kalau sampai minum di depanku,” jawab Rio setengah merengut.

“Hahaha.. iya iya, tenang aja,” kataku sambil tertawa.

Menurut pemandu wisata kami, waktu yang dibutuhkan untuk bisa sampai di atas adalah sekitar satu jam. Dia juga memberi tahu kalau rombongan kami akan makan siang di sebuah restoran yang sudah ditunjuk. Letak restoran tsb berada di pertengahan perjalanan trekking kami menuju rice terrace. Katanya sih, restoran itu menjual makanan khas Longsheng; nasi bakar yang dibungkus bambu.

Tapi aku memutuskan untuk terus berjalan menapaki anak tangga yang semakin curam dan melewatkan makan siang. Nggak yakin juga sih kalau menu makanan yang ada di restoran itu terjamin halal. Selain itu, kasihan kalau Rio harus melihatku makan sementara dia sedang puasa.

 

DSCF1647-01

Jalur trekking menuju Longji Rice Terrace

DSCF1867

Bukan, itu bukan tongkat pemukul kasti. Itu bambu pembungkus nasi untuk dibakar, makanan khas Longsheng

Aku benar-benar salut dengan Rio karena dia masih kekeuh meneruskan puasanya walaupun siang itu panasnya menyengat dan masih harus trekking menuju rice terrace. Padahal aku beberapa kali menggodanya dengan botol air mineral yang kupegang.

DSCF1679-01

Susah senyum kalau lapar haha..

“Masih kuat, nyet? Minum aja nih, batalin aja puasanya,” godaku.

“Duh, panas banget. Tapi udah setengah hari nih, kan sayang kalo harus dibatalin,” kata Rio.

“Masih jam satu lho. Buka puasanya kan jam delapan. Masih lama banget! Nih, minum aja deh. Daripada pingsan lho kamu,” godaku lagi sambil terus melangkahkan kaki melewati jalan kecil di antara rumah-rumah penduduk lokal.

DSCF1737

Jalur trekking menuju Longji Rice Terrace, melewati rumah penduduk lokal

Sesaat kemudian..

“Eh ada yang nyewain baju khas Cina! Aku boleh nyewa nggak? Cuma sepuluh Yuan kok. Boleh ya?” pintaku.

“Iya, boleh. Ada kostum buat cowok juga nggak?” tanya Rio.

“Nggak ada kayaknya. Kamu fotoin aku aja,” kataku.

Rio terpaksa mengiyakan permintaanku. Sambil numpang berteduh, dia membantuku memilih kostum adat khas Cina yang cocok. Dan terpilihlah kostum berwarna pink mencolok karena match dengan jilbab yang sedang kupakai waktu itu.

DSCF1824-01-01

Bersama wisatawan lokal memakai kostum tradisional Longsheng

2015_0622_13231200-02-01

Kostum tradisional Longsheng, Guangxi, Cina

Puas jeprat-jepret, kami melanjutkan trekking yang hanya tinggal beberapa anak tangga lagi. Longji Rice Terrace sebenarnya adalah sawah yang dibentuk dengan sistem terasiring karena letaknya yang berada di atas pegunungan. Di Indonesia juga banyak, khususnya di Bali. Tapi pemerintah Cina menjadikannya sebagai tempat wisata dan mempromosikannya ke seluruh dunia sebagai salah satu wisata andalan Cina Selatan, khususnya Propinsi Guangxi. Musim panas adalah waktu yang tepat untuk berkunjung, karena Longji Rice Terrace akan terlihat bagus dari puncak.

DSCF1706-01

Longsheng, Propinsi Guangxi, Cina

Ada tujuh buah terasiring berbentuk seperti lingkaran yang diandalkan, dan mereka menyebutnya “Seven Stars Around The Moon” karena pantulan air dari tujuh lingkaran tsb akan tampak seperti bintang yang mengelilingi sawah yang bentuknya bulat seperti bulan.

DSCF1834-01

“Seven Stars Around The Moon” Longji Rice Terrace, Longsheng

“Sebenarnya lebih bagus yang di Bali, sih. Sayangnya nggak bener-bener dijadiin destinasi wisata dan dikelola sama departemen pariwisata kita aja,” kata Rio sembari duduk berteduh di sebuah gubuk di tepi sawah karena lelah dan kepanasan.

“Iya, ya. Coba aku yang jadi menteri pariwisata, kubikin maju pariwisata Indonesia!” jawabku sambil melamun.

“Apa kata Mbak Mangga aja deh. Asal Mbak Mangga seneng, aku juga seneng,” timpal Rio yang membuatku tersenyum geli.

“Oke deh, Kakak Rio hahaha..” kataku sambil tertawa.

Sepulang dari Longsheng, kami ngabuburit sambil mencari pilihan restoran halal yang lain di pusat Kota Guilin. Aku yang sebenarnya paling malas kalau disuruh jalan kaki jauh, entah kenapa jadi suka jalan kaki selama di Guilin. Mungkin karena dipaksa tertular kebiasaan orang lokal yang kebanyakan lebih memilih jalan kaki dibanding naik kendaraaan bermotor. Pemerintah Cina benar-benar membuat tata kota yang bersahabat untuk para pejalan kaki dengan membangun trotoar yang luas, aman, dan nyaman, taman yang luas dengan akses jalan yang menyenangkan untuk dilewati, sampai pengaturan lalu lintas yang bersahabat. Aku benar-benar kagum. Andai aja di Indonesia bisa seperti itu, ya!

DSCF1078-01

Jalanan Guilin

DSCF1450-01

Es krim buah, salah satu jajanan di Guilin

Kami berusaha mencari kawasan orang muslim dengan mengandalkan Google Maps, dengan harapan bisa menemukan restoran halal di sana. Dan setelah sekitar satu jam berjalan kaki mengikuti petunjuk dari Google Maps, kami menemukan sebuah masjid. Masya Allah, senang melihatnya.

Di area masjid yang kami temukan, ada sebuah tempat makan bertuliskan halal. Namun sayang, menu makanannya sepertinya kurang menggairahkan nafsu makan kami berdua. Tempatnya nya pun terlihat kurang bersih. Terpaksa kami harus mencari referensi yang lain.

Sambil menahan perut yang kelaparan, kami berdua terus menyusuri jalanan dengan deretan restoran yang menawarkan beragam jenis makanan khas Cina, kebanyakan sih seafood. Mataku terus mencari tulisan halal yang biasanya tertulis dengan huruf Arab. Rio sudah mulai marah-marah karena kelaparan dan belum juga menemukan tempat makan yang halal. Ya, setelah bertahun-tahun mengenalnya, aku baru tahu kalau Rio gampang banget tersulut emosi kalau dia sedang lapar hahaha..

“Eh itu ada tulisan halal, coba ke sana aja deh,” kata Rio dengan muka manyun saat dia melihat sebuah restoran kecil di seberang jalan dari tempat kami berdiri.

“Oh, iya. Yuk!” jawabku sok semangat sambil meliriknya.

“Serem juga nih anak kalau marah pfft,” batinku sambil mengikuti di belakangnya.

Alhamdulillah, malam itu kami bisa makan enak. Walapun pada awalnya kami gelagapan karena nggak bisa membaca buku menu yang semua tertulis dengan huruf Cina, kami tertolong dengan gambar-gambar menu yang terpampang di tembok restoran. Kami sepakat kalau restoran-yang-kami-nggak-tahu-namanya-karena-hurufnya-nggak-bisa-kami-baca itu adalah tempat makan favoritku dan Rio di Guilin.

20150622_204348_Richtone(HDR)

Lost in Translation: Menu makanan di restoran halal, Guilin

Rasa masakan yang disajikan oleh chef muda yang ganteng banget itu sesuai dengan lidah kami, terutama egg tomato-nya. Semuanya pas, nggak kurang dan nggak berlebihan. Harganya pun sesuai dengan kantong. Baru kali itu aku bisa menghabiskan makananku hehe.. Perut kenyang, hati pun senang!

“Udah nggak marah-marah lagi, mas?” godaku.

“Enggak dong. Kan udah kenyang,” jawabnya sambil nyengir bahagia.

  • Day 3: “Dipalak” Tour Agent

Sekitar jam tujuh pagi, kami sudah siap di lobi hotel. Pagi itu adalah hari ketiga kami berada di Guilin, dan kami sedang menunggu bus jemputan dari sebuah travel agent.

“I’m ready for the most expensive tour I’ve ever spent, yeay!” kataku.

“Hahaha.. kamu nyesel udah beli paket tur mahal?” ledek Rio sambil tertawa.

“Enggak sih sebenernya. Tapi lumayan bikin isi dompet tipis sih ya hihi..” jawabku sambil nyengir.

Harus diakui, trip di hari ketiga ini adalah trip termahal kami selama di Cina Selatan. Aku dan Rio sempat ragu sebelum akhirnya kami membayar paket tur-nya di sebuah travel agent dua hari sebelumnya. But the decision had been made.

“Bus anda akan menjemput di perempatan,” kata petugas hotel dalam Bahasa Cina.

“I beg you pardon?” jawabku karena nggak ngerti.

Akhirnya perempuan cantik penjaga hotel itu menggunakan Google translate di hp-nya untuk mengartikan kalimatnya dalam Bahasa Inggris. Kami pun segera keluar hotel dan berjalan kaki menuju perempatan lampu merah yang berada sekitar seratus meter dari hotel.

Sekitar lima belas menit menunggu, akhirnya ada seorang perempuan mungil dan cantik dengan hotpants dan kaos belel-nya mendatangi kami.

“Are you guys from The Red Bamboo Hotel who join us to Yangshuo tour?” tanyanya.

“Yes, we are,” jawab kami berdua kompak.

Lalu kami dipersilahkan masuk ke sebuah bus bersama beberapa anggota tur lainnya. Kali itu ada beberapa turis asing yang juga ikut dalam tur. Agak lega karena bisa mendengar orang berbicara dengan bahasa yang kumengerti.

Bus menuju sebuah dermaga, tempat di mana kami akan menaiki sebuah kapal menyusuri Li River menuju sebuah kota kecil bernama Yangshuo. Dari meeting point menuju dermaga membutuhkan sekitar satu jam, menurut pemandu tur kami. Dia kemudian menjelaskan tentang tur menuju Yangshuo ini menggunakan dua bahasa secara bergantian; Bahasa Cina dan Bahasa Inggris. Dan Rio pun tertidur di tengah-tengah “dongeng” dari sang pemandu wisata.

“Kebo banget deh nih anak,” kataku dalam hati melihat travelmate-ku yang sedang pulas dengan muka konyolnya yang khas.

“Mingkem bisa kali itu mulut hahaha..” ledekku sambil membenarkan posisi dagunya.

Dan setelah bermacet-macet ria di jalanan Guilin selama satu jam, kami tiba di dermaga. Peserta tur digiring ke tepi dermaga, dan diarahkan masuk ke sebuah cruise besar berwarna putih.

DSCF1904-01

Cruise Tour menuju Yangshuo melewati Li River

“Here we go, tur mahal!” kataku bercanda.

Ada banyak tempat duduk dan meja yang sudah disiapkan untuk kami. Ruangan tempat kami duduk berada di lantai bawah kapal, ditata seperti ruang makan karena paket tur kami juga termasuk fasilitas makan siang di atas cruise. Dan ketika kapal mulai berangkat, kami diperbolehkan ke lantai atas agar bisa menikmati pemandangan gunung karst di sepanjang tepian Li River.

DSCF2086-01

Pemandangan sepanjang Li River menuju Yangshuo

DSCF2221-01

Pemandangan pegunungan karst di Li River, seperti yang ada di mata uang Yuan

“Berasa di Rammang-Rammang ya, Mangga,” kata Rio.

“Bedalah, Rio. Beda di ongkos! hahaha..” jawabku sambil tertawa.

“Hahaha.. iya sih. Mewah! Berapa duit?” ledek Rio.

Sebelum aku sempat menjawab ledekan Rio, seorang laki-laki bernama Joe mendekati kami.

“Hi, there. I’m Joe, your guide for this cruise tour to Yangshuo. Where are you both from?” tanyanya ramah.

“Hi, we are from Indonesia,” jawabku.

“Oh, I thought you are from Malaysia. We rarely have visitors from Indonesia, mostly Malaysian who visit us. So do you guys enjoy the view? It’s beautiful, isn’t it?” lanjutnya panjang lebar.

“Yeah, it’s great. We love it,” kataku.

DSCF2121-01

Li River yang dikelilingi pegunungan karst

DSCF1913-02

Di atas deck kapal, Li River

“Glad you like it. Okay, now I want to explain about the tour. We will go to Yangshuo by this cruise through this Li River. And if you don’t mind, can I check your ticket you’ve got from our travel agent?” pinta Joe.

“Sure. Here it is,” kataku sambil menyodorkan selembar tiket yang kudapat dari travel agent.

Setelah menjelaskan panjang lebar, Joe kemudian menawarkan paket tur lanjutan selama di Yangshuo. Kami diberikan brosur berisi beberapa gambar dan penjelasannya. Namanya pemandu wisata, dengan pintarnya dia menjelaskan paket tur lanjutan tsb dengan ramah dan menyenangkan. Intinya, jika kami bersedia ikut tur lanjutan, kami harus membayar lagi beberapa ratus Yuan.

“Rio..” kataku sambil melirik ke arah teman jalanku itu.

“Nambah berapa?” tanyanya balik.

“Lima ratusan Yuan,” kataku sambil tetap pura-pura tersenyum di depan Joe.

“Okay, I’ll let you two discuss it first. I’ll be back in ten minutes to get to know the answer. Is that fine?” tanya Joe.

“Oh, okay. We’ll let you know later. Thank you,” jawabku.

“Jadi harus bayar lagi???” tanya Rio sambil keheranan.

“Iya huhu.. Jadi kemarin yang kita bayar itu cuma ongkos kapal Guilin-Yangshuo sama bus Yangshuo-Guilin doang. Meh!” jelasku.

“Lima ratus Yuan itu buat naik bamboo rafting, nonton pertunjukan burung apalah itu namanya pemakan ikan, sama ngasih makan kebo,” lanjutku.

“Nggak usah ikut tur lanjutan aja deh, menurutmu gimana?” tanya Rio meminta pendapatku.

“Iya sih. Nggak usah aja deh, gitu-gitu doang lagian tur lanjutannya,” kataku setuju dengan Rio.

Kami berusaha menjelaskan pada Joe kalau kami nggak akan ikut tur lanjutan, tapi sayangnya Joe seperti memaksa kami dengan segala bujuk rayuan dan promosinya. Dia juga sempat bilang kalau kami nggak mau ikut tur tambahan, kami harus kembali ke Guilin sendiri. Dengan kata lain, kami harus mencari bus sendiri dan harus pisah dengan rombongan.

Di sinilah kami merasa agak janggal. Nggak mau ikut tapi kok dipaksa ya?

“Gimana nih, Rio?” tanyaku agak ketakutan.

“Ah, rese’ nih guide-nya. Kok maksa gitu sih dia.  Trus gimana dong?” Rio malah bertanya balik padaku.

“Nggak tahu. Rela nggak kamu ngeluarin duit lima ratus Yuan lagi?” tanyaku lagi.

“Nggak rela sih sebenarnya. Tapi mau gimana lagi. Kan katamu susah nyari bus rute Yangshuo-Guilin,” gerutu Rio.

“Fiuh, ini mah namanya dipalakin kalau kayak gini ceritanya,” sahutku.

Dan setelah melewati Li River yang sangat panjang, kami tiba di kota Yangshuo. Kota ini dikelilingi pegunungan karst, sama seperti Rammang-Rammang di Sulawesi Selatan. Bedanya, kota ini sudah modern dan sangat ramai. Banyak restoran mewah, pertokoan dengan brand-brand terkenal dunia, hotel, cafe, dll.

DSCF2263-01

Downtown, Yangshuo

Si Joe memberi kami waktu satu jam untuk berkeliling, sebelum mengunjungi tempat berikutnya. Kota ini unik, menurutku. Di tengah-tengah unsur modern yang ditawarkan, penduduk lokalnya masih saja hanya mengandalkan Bahasa Cina.

IMG_20150706_041212

Downtown, Yanghsuo

Jika dibandingkan dengan penduduk di Bali, warga lokal Yangshuo ini sebenarnya masih kalah. Warga lokal Bali yang mata pencahariannya berdagang dekat dengan tempat wisata, semua bisa berkomunikasi dengan Bahasa Inggris, sedangkan warga Yangshuo ini hanya mengandalkan Bahasa Cina. Tapi mungkin ini cara pemerintah Cina untuk mempertahankan tradisi mereka. Mungkin juga karena pengaruh dari kepemimpinan komunis di jaman dulu yang mengisolir warganya dari dunia luar.

DSCF2287

Oleh-oleh khas Yangshuo

Di sepanjang jalan tengah kota, wisatawan ditawarkan dengan berbagai macam suvenir khas Cina, dari gantungan kunci, mug, kipas, kartu pos, topi, kain, baju, dll. Akan tetapi, jalanan tsb akan berubah menjadi bar dan tempat judi dikala malam.

Joe sempat menceritakan pada kami tentang beer fish, makanan khas Yangshuo. Cara memasaknya unik karena ikan direbus dengan bir sampai matang, dan kemudian disajikan panas-panas. Oleh karenanya, makanan ini hanya ada di malam hari, ketika sepanjang jalanan downtown berubah menjadi bar. Sayangnya kami nggak tertarik mencoba makan ikan mabok hehe..

Kami membeli beberapa suvenir untuk oleh-oleh, foto-foto, keluar-masuk toko, dan akhirnya bertemu peserta tur di depan sebuah restoran fast food. Dan Joe sudah menunggu kami di sana.

“Rio, enak nih kayaknya kalau makan dulu di KFC sambil nunggu peserta lain yang belum ngumpul,” godaku.

“Hmm, mulai deh godain orang puasa. Jauhkan hamba dari setan, Ya Allah,” jawab Rio.

“Eh kurang ajar, aku dibilang setan. Jitak sini!” kataku sambil tertawa.

“Tapi masih kuat kan puasanya? Trekking di Longsheng aja kuat, masa cuma jalan dikit di sini nggak kuat?” lanjutku.

“Kuat, Insya Allah. Asal kamu nggak bikin emosi aja sih,” kata Rio sambil cengengesan.

Lalu tur kami dilanjutkan dengan memberi makan kerbau dengan kulit jagung. Ini kegiatan paling nggak penting dan paling nggak atraktif sepanjang tur. Aku dan Rio sama sekali nggak berminat mendekati seekor kerbau yang sengaja disiapkan untuk diberi makan oleh peserta tur.

“Seriously? Gini doang dijadiin paket tur wisata?” gerutuku sambil melirik ke arah Rio yang ada di sampingku.

“Makanya, enggak banget deh. Komersil banget orang sini ya,” kata Rio.

Kami berdua terus menggerutu dalam Bahasa Indonesia, sengaja agar orang lain nggak ngerti. Dan nggak sampai lima menit, aku dan Rio berjalan menjauh dari tempat si kerbau berada. Kami berdua jalan ke tepian sungai, tempat di mana kami akan menaiki bamboo rafting.

Selain Li River, ada juga Yulong River yang terkenal dengan Dragon Bridge-nya di Kota Yangshuo. Sungai dan jembatan ini adalah semacam city icon-nya Yangshuo dan sering dijadikan obyek foto di kartu pos ataupun kalender. Menurut Joe, Dragon Bridge sudah berumur ratusan tahun dan masih kokoh sampai sekarang.

2015_0623_15123600-01

Dragon Bridge di atas Yulong River, Yangshuo

Dan karena kami ikut paket tur tambahan, kami bisa menikmati view sepanjang Yulong River dan juga melewati bagian bawah Dragon Bridge dengan rakit bambu. Pemandangannya luar biasa sih memang, tapi panasnya juga nggak kalah luar binasa!

 

Di tengah-tengah menyusuri sungai dengan rakit bambu, kami diarahkan ke tepian untuk melihat atraksi beberapa ekor burung berwarna hitam yang sangat lihai berenang dan menangkap ikan yang dilempar oleh seorang pawang. Ikan yang ditangkap disimpan di dalam tenggorokan si burung hitam, dan akan dikeluarkan utuh saat sudah sampai di perahu sang pawang.

“Ngapain sih ini?” tanyaku.

“Itu lho lihat burungnya, bisa berenang trus bisa nangkap ikan,” kata Rio.

“Gitu doang? Yaelah, boring. Apa menariknya sih?” tanyaku heran.

“Entahlah. Mana panas banget deh ini,” jawab Rio sambil kipas-kipas kegerahan.

DSCF2308-01

Atraksi Burung Hitam penangkap ikan, Yanghsuo

Ternyata selain memberi makan kerbau, melihat atraksi burung hitam yang-entah-apa-namanya itu adalah kegiatan tur kami yang paling membosankan selama di Cina Selatan. Oh God, we spent five hundreds Yuan only for this..

Tapi kekecewaan itu sedikit terobati dengan pemandangan gunung karst di sekeliling Sungai Yulong. Semacam perpaduan Rammang-Rammang yang ada di Sulawesi Selatan dan Loksado yang ada di Kalimantan Selatan. Sama-sama indah, tapi pemerintah Cina lebih pintar dalam menggali potensi wisata di negaranya dibanding pemerintah kita.

DSCF2331-01

Pemandangan sekeliling Yulong River, Yangshuo

Sekitar jam empat sore waktu setempat, bus rombongan tur kami kembali ke Guilin. Rio sudah asyik dengan headset-nya sambil nyanyi-nyanyi, dan aku mulai ngantuk.

“Bisa nggak sih nyanyi lagu selain lagunya Carrie Underwood? Bosen tau!” protesku ke Rio.

“Hahaha.. ganti lagu apa dong?” tanya Rio sambil pamer gigi.

“Apa aja pokoknya selain Carrie Underwood! Sumpah bosen banget, kamu nyanyi itu terus dari pas naik pesawat, kereta, di hotel, sampai sekarang. Kasian telingaku, nyet!” omelku.

“Baiklah, mari kita cari lagu lain buat Mbak Mangga hahaha..” jawabnya sambil mencari lagu di playlist hp-nya.

Okay, I’m ready. Dengerin ya hehe..,” lanjut Rio.

Semenit kemudian, dia menyanyikan lagu Sheila on 7 yang berjudul ‘Buat Aku Tersenyum’ dengan suaranya yang dia-anggap-enak-padahal-enggak-banget tepat di telingaku.

“Riiight, I better be sleeping now,” kataku sambil memasang sunglasses.

“Tuh kan, dinyanyiin malah mau tidur. Nggak boleh tidur pokoknya. Dengerin aku nyanyi!” paksa Rio.

“Baiklah..” jawabku sambil meringis geli.

Anehnya, beberapa menit kemudian aku tertidur. Entah karena nyanyiannya, atau karena memang capek dan ngantuk. Rio pun menyerah, lalu dia melakukan kebiasaannya; lipsync sambil pura-pura sedang ada di sebuah video klip. Pfft.

Satu jam tertidur, Rio menggoyang-goyang bahuku agar aku bangun.

“Mangga, bangun! Ayo bikinin caption buat fotoku,” katanya.

“Apa sih. Ntar aja,” kataku sambil masih merem.

“Iiih.. banguuun, bikinin caption dulu trus abis itu boleh bobok lagi,” rengeknya sambil terus menggoyang-goyang tubuhku dengan kedua tangannya.

Aku yang paling nggak suka kalau harus dibangunkan paksa tanpa alasan jelas, langsung ngomel-ngomel. Tapi Rio malah cekikikan melihatku.

Rese’ banget sih jadi orang! Aku masih ngantuk tau,” omelku.

“Ayo nah, bikinin caption sama pilihin foto yang bagus. Mau aku upload di IG nih,” katanya sambil cengengesan tanpa dosa.

“Nggak!” kataku ketus.

“Mangga.. Ayo bikinin,” rengeknya terus menerus tanpa menyerah.

Aku yang bete karena harus terbangun paksa, langsung tanpa sadar manyun. Rio ini ngeselin banget kalau sudah ada maunya, dan harus diturutin. Saking emosinya, aku sengaja minum air mineral di botol yang kubawa di depannya.

“Seger banget ya? Ayo, sekarang bikinin caption,” rengeknya lagi.

Arrrgggghh… Why can he never take No?

  • Day 4: Got Broke

Pagi itu kami berjalan melewati sebuah taman yang beberapa hari terakhir menjadi rute kami menuju restoran halal favorit kami. Kami mencari Bank of China untuk menukar mata uang Yuan.

“Nih, di sini nih bank-nya,” kataku sambil menunjuk sebuah titik yang ada di Google Maps.

“Yaudah, ikutin arahnya. Tukar duit di sana aja,” kata Rio.

Aku yang ke-pede-an, ternyata salah mengikuti arah yang ada di peta. Rio pun mulai ngomel-ngomel. Di sinilah aku sadar kalau aku nggak bisa baca peta hahaha.. Ampun!

“Dasar cewek, nggak bisa banget baca peta,” gerutu Rio yang membuatku cekikikan.

Beberapa hari di Cina, memang selalu Rio yang menggunakan peta di hp-nya. Di hari terakhir, aku sok-sokan menggunakan Google Maps di hp-ku. Dan ternyata nyasar hahaha.. Quote “Girls can’t read maps” mungkin memang benar adanya ya!

DSCF2453-01

Tengah Kota Guilin

Walaupun sempat kesasar, kami akhirnya berada di sebuah perempatan jalan raya dan Bank of China ada di seberang kami. Tempatnya luas dan mewah. Setelah bertanya, ternyata tempat menukar mata uang berada di lantai dua.

“Hello, we would like to know if we could exchange Indonesian Rupiahs to Yuan,” kataku pada seorang pegawai bank tsb.

“You want to exchange to Yuan?” jawabnya dengan Bahasa Inggris yang terpatah-patah.

“Yes. Can we?” tanyaku ragu.

“From US Dollar, Japan Yen, or Euro?” tanyanya.

Ngok!

“Oh, we would like to exchange it from Indonesian Rupiahs,” jelasku lagi.

Dengan mimik mukanya yang aneh, perempuan itu sepertinya belum pernah mendengar mata uang rupiah seumur hidupnya. Sedetik kemudian, ada seorang perempuan lagi mendatangi kami dan menjelaskan bahwa mereka hanya bisa menerima penukaran Yuan dengan USDYen, atau Euro. Tapi dia memberikan solusi agar kami menarik uang dari ATM karena bisa langsung dikonversi menjadi Yuan. Tentu saja dengan beberapa persen potongan.

Ya sudahlah, kami terpaksa melakukannya karena nggak ada pilihan lain. Semua ini gara-gara paket wisata mahal ke Yangshuo. Kami bangkrut di hari keempat di Guilin. Uang kami tinggal beberapa ratus Yuan sedangkan kami masih beberapa hari lagi berada di Cina.

DSCF2472-01

Penyewaan sepeda, Guilin

Setelahnya, kami jalan-jalan memutari tengah kota Guilin sambil jeprat-jepret. Menyeberangi jalan, keluar-masuk pertokoan, melihat orang lalu-lalang, membeli makanan, sampai akhirnya kembali ke hotel. Hari itu hari terakhir kami di Guilin. Kami kembali ke Nanning menggunakan kereta cepat setelah selesai check out dari hotel.

DSCF2478-01

Ronghu Lake, Guilin

Beberapa hari di Guilin, aku merasa betah. Walaupun awalnya frustrasi karena perbedaan bahasa, aku merasa senang berada di kota itu. Hotel yang bagus dan nyaman, suasana kota yang entah kenapa terasa hangat, berbagai keunikan budayanya, kebiasaan aneh penduduknya, restoran halal favorit yang susah ditemukan, taman kota yang hijau dan asri, tata kota yang bersahabat, suasana malam yang tenang di tepi danau buatan dengan warna-warni lampunya. Ada sedikit rasa kehilangan di detik-detik terakhir harus meninggalkan Guilin.

Guilin juga mengajarkanku sabar. Sabar mencari restoran halal, sabar berjalan kaki jauh di bawah terik matahari, sabar menghadapi perbedaan budaya dan bahasa, sabar menghadapi Rio yang gampang marah saat lapar, dan sabar mengendalikan diriku sendiri.

How I will miss Guilin.

How I will miss being lost in translation.

How I will miss being a stranger.

How I miss our togetherness.

Thank You, God, for the guidance and the granted prayer of mine: this trip.

But this journey wasn’t about to end yet..

Advertisements